whoru

Kalau seseorang menanyakan siapa kamu? Apa kira- jawaban para  Leader? Kebanyakan akan menjawab karakter dasar atau profesinya. Misalnya, “Saya Andi, saya seorang guru, saya ibu, saya seniman, dan lain sebagainya. Tetapi, benarkah siapa kamu itu adalah kamu yang sekarang ini? Apakah   para Leader  yakin bahwa  Leader  adalah anda sekarang ini?

Orang-orang biasanya tidak yakin. Pada kenyataannya, beberapa orang bahkan tidak pernah menemukan jawabannya.  Bisakah dibayangkan menjalani hidup ini sepenuhnya tanpa benar-benar mengetahui siapa sebenar Anda?

Well, pernahkah para  Leader menyadari  bahwa  Leader adalah kumpulan pengalaman, ingatan, pemikiran, perasaan dan keyakinan?
Kebanyakan orang cenderung setuju.

Mari kita pelajari lebih mendalam. Apakah kita adalah pengalaman dan ingatan ataukah ini hanya sekadar kejadian-kejadian yang pernah dialami? Apakah kita benar-benar pikiran kita?

Jika para Leader menjawab ya, mari kita lanjutkan, bisakah kita merubah pikiran? Tentu saja bisa. Kemudian, siapa yang merubah pikiran? Adakah sesuatu yang lebih besar daripada pikiran yang bisa merubahnya jika seseorang bermaksud merubahnya?

Pikiran tidak akan pernah bisa berubah dengan sendirinya. Seolah sebuah buku yang tidak pernah bisa membuka-buka halamannya sendiri, atau sebuah mobil menyalakan mesinnya sendiri.

Jadi, siapa di dalam diri kita yang bisa merubah pikiran kita? Para  Leader bisa saja bilang: “Saya bisa. Saya bisa merubah pikiranku.” Kalau ini yang terjadi, Anda bukan pikiran Anda, bukan? Jadi, apakah para  Leader  adalah
perasaan Leader sendiri? Sebagaimana dengan pikiran, para Leader bisa bilang bahwa  Leader  memiliki perasaan tetapi  Leader  bukanlah perasaan itu.

Terus bagaimana dengan keyakinan? Apakah para  Leader  adalah sistem keyakinan? Banyak yang mengasumsikan demikian, tetapi kita perlu menggunakan beberapa rasionalisasi: kita bisa merubah atau meningkatkan keyakinan. Ini akan susah dilakukan tetapi bisa. Kalau dibilang  Leader memiliki keyakinan, ya. Memang. Tetapi,  Leader  bukan keyakinan itu, kan?

Lantas, disebut apa itu pikiran, ingatan, perasaan dan keyakinan? Apakah ini bagian dari “orang“? Para Leader  bisa menyebutnya “kepribadian.” Banyak psikolog akan menyetujui itu, tetapi “apa” atau “siapa”
yang sudah ada disana sebelum kita mengembangkan apa yang disebut “kepribadian” itu? Terus entitas apa yang memiliki “kepribadian” itu? Para  Leader  bisa menjawab “Saya.” Selesai sampai disini? Belum.

Dalam kasus “siapa kamu”, kita harus kembali kebahasan diatas  lagi, dari titik ini, kita tahu bahwa bukan kita.  Setidaknya bukan seluruhnya kita adalah pikiran, perasaan atau keyakinan. Ataukah kita adalah kumpulan ini semua yang tadi kita sebut kepribadian? Tetapi, bukankah “kita” bisa mengubah bagian-bagian “kepribadian” itu? Jadi siapa sebenarnya kamu? Kata-kata “person” (orang) berasal dari kalimat latin “persona“, yang berarti “topeng“. Karena itu berarti orang mengenakan segala macam topeng yang memungkinkan mereka memainkan semua peran. Tetapi, meskipun para  Leader  memakai ribuan topeng yang berbeda, tetap ada sebuah wajah dibalik topeng. Kita menyebutnya “Jati Diri“.

Kita mewakili banyak “diri” termasuk diri ini yang kita ingin orang lain mendapatkan kesan “siapa diri kita.“ Jati diri yang pada saat itu kitaberpikir inilah diri kita. Jati diri yang kita takutkan, dan kemudian tentu saja nilai-nilai inti yang sesungguhnya diri kita. Sewaktu melepas topeng itu kita mendapatkan wajah sesungguhnya diri kita.

Ingat kalimat dari  Descartes? “I think, therefore, I am.“ Dari perspektif kejiwaan, kalimat yang lebih tepat barangkali adalah  “I think, therefore I THINK I am.” Siapa yang kita pikir diri kita adalah hampa, tetapi sebuah kumpulan pemikiran! Sesungguhnya kita adalah di luar pikiran-pikiran itu.

Coba lakukan latihan kecil ini. Ambil napas dalam-dalam, abaikan semua pikiran, kesadaran dan perasaan. Sesaat kemudian lepaskan nafas. Apa yang masih tersisa?  Jati diri kita sesungguhnya adalah jiwa yang paling dasar yang membentuk diri kita. Di bawah ego dan proses-proses metal yang sudah terjadi, jati diri mendasari semua hal. Jati diri itu menunggu untuk diketemukan.

Sewaktu belajar untuk mengenalinya dan mendalami kesadaran itu, hal-hal baik bisa muncul secara otomatis. Tanpa kebutuhan untuk mencapai

Apakah kita adalah pengalaman dan ingatan ataukah ini hanya sekedar kejadian-kejadian yang pernah dialami? tujuan atau menggunakan kekuatan ‘keinginan’. Kita ada didalam seseorang yang kita kenal sebagai diri kita. Karena itu, untuk untuk menemukan siapa sebenarnya diri ini harus dengan cara mengurangi pikiran-pikiran, perasaan-perasaan dan menjadi lebih sadar entitas keberadaan kita. Dan ini mesti dilakukan tanpa kritik, tanpa menilai, menyalahkan dan mengeluhkan.

Jadi, untuk menjalani hidup lebih hidup, sebuah kehidupan yang berarti, kali kita mesti memahami siapa diri kita dan membuat pilihan berdasarkan harapan dalam diri.  Lantas, kita bisa mulai mengalami perasaan bebas yang kuat, kebahagiaan dan kedamaian diri.

Ambil napas dalam-dalam, abaikan semua proses mental sesaat. Temukan “siapa kamu?” “Surely, we are not human beings having a spiritual experience, but spiritual beings having a human experience.” —Pierre Teilhard De Chardin.  (DanG.)
Written by Bob Gottfried, PhD
*This is an adapted excerpt from the book: “Shortcut to Spirituality: Mastering the Art of Inner Peace” (DeeperDimension publishing, 2004.) Dr. Bob Gottfried is a psychotherapist and Neuro-cognitive specialist.
He is the clinical director of Advanced Wellness Programs and Advanced Cognitive Enhancement clinics. He can be reached at bob@shortcuttospirituality.com Web site: www.shorcuttospirituality.com

Sumber : http://www.leadership-park.com